Produk dibuat secara manual
Gimo
mengaku usahanya lebih fokus untuk membuat kostum tari tradisional dan
wayang orang. Proses pembuatan pun masih manual atau menggunakan tangan.
“Hanya untuk pakaian saya menggunakan mesin jahit untuk membuatnya,”
terang Gimo.
pekerja
menyelesaikan pembuatan pernak-pernik dan pakaian tari di usaha
kerajinan pakaian tari dan wayang milik Pak Gimo, Dukuh Bacem,
Langenharjo, Sukoharjo Jumat (10/5/2013). Foto : Novandi K Wardana.
Bahan-bahan
yang digunakan dalam pembuatan kostum ini pun bervariasi. “Untuk
aksesoris pelengkap kostum, kami menggunakan bahan-bahan seperti kulit
kerbau, karton, kain bludru (suede), dan payet-payet,” jelasnya.
Sedangkan untuk pembuatan kostum tari, bahan yang digunakan bervariasi
antara lain kain tetron, kain ero, kain toyuci, kain bludru minyak, kain
bludru koflog, dan nilon.
Hasil
produksinya, dipasarkan Gimo ke pelanggan tetapnya di Toko Bringharjo
dan Tjokrosoharto Yogyakarta serta Pasar Klewer, Solo. “Selain itu tentu
saja ada para seniman dan penari yang membeli kostum dan perlengkapan
tari di sini,” ujar Gimo. Pemesan kostum dan perlengkapan tari Gimo juga
ada dari luar kota seperti Banyuwangi dan Jakarta. “Biasanya anak-anak
SMK I Solo dan mahasiswa ISI (Institute Seni Indonesia) juga sering
memesan kostum di tempat saya,” lanjutnya.
Gimo
mengaku omzet rata-rata yang diperoleh dari pembuatan kostum ini adalah
sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan. “Ya tergantung
produksinya juga sih. Tapi per bulan rata-rata ya segitu,” ujar Gimo.
Salah
satu produk yang merupakan bagian dari seragam tari dan wayang milik
Pak Gimo. Usaha kerjinan telah digeluti Hadi Sugimo sejak tahun 1989.
Foto : Novandi K Wardana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar